Teleskop Roman NASA Meluncur untuk Mengungkap Misteri Alam Semesta

Teleskop Roman NASA Meluncur untuk Mengungkap Misteri Alam Semesta

Teleskop Roman NASA resmi meluncur pada 30 Agustus 2026 untuk mempelajari berbagai misteri alam semesta. NASA meluncurkan observatorium tersebut menggunakan roket SpaceX Falcon Heavy dari Kennedy Space Center, Florida.

Peluncuran berlangsung pada pukul 07.26 waktu setempat. Setelah terpisah dari roket sekitar 32 menit kemudian, Roman mulai melakukan perjalanan menuju titik orbit akhirnya di Lagrange Point 2 atau L2.

Menariknya, misi senilai sekitar US$4,3 miliar ini memiliki sejarah yang tidak biasa. Teknologi cermin utamanya berasal dari perangkat teleskop yang sebelumnya dikembangkan untuk program satelit pengintaian Amerika Serikat.

Teleskop Roman NASA Berasal dari Teknologi Mata-Mata

Teleskop Roman NASA memanfaatkan perangkat optik yang sebelumnya diberikan kepada NASA oleh National Reconnaissance Office atau NRO. Badan tersebut merupakan lembaga Amerika Serikat yang mengembangkan dan mengoperasikan satelit pengintaian.

NRO menyerahkan dua sistem teleskop kepada NASA pada 2012. Salah satu cermin tersebut kemudian menjadi bagian penting dari observatorium Roman.

NASA tetap harus melakukan rekayasa ulang secara besar-besaran. Perangkat yang awalnya dirancang untuk pengamatan dari orbit kemudian disesuaikan untuk kebutuhan penelitian astronomi.

Transformasi tersebut menghasilkan teleskop yang memiliki kemampuan pengamatan sangat luas. Roman kini tidak lagi mengawasi Bumi, tetapi akan mengamati miliaran objek di alam semesta.

Roman Menuju Lagrange Point 2

Setelah peluncuran, Roman memulai perjalanan sekitar tiga bulan menuju L2. Titik tersebut berada sekitar satu juta mil atau sekitar 1,6 juta kilometer dari Bumi.

Lokasi itu memungkinkan Roman mengamati alam semesta dengan kondisi yang sangat stabil. Setelah mencapai orbit akhirnya, tim NASA akan menjalankan serangkaian aktivasi, pengujian, dan kalibrasi sebelum observatorium memulai kegiatan ilmiah.

Misi utama Roman akan berlangsung setidaknya lima tahun. Namun, NASA dapat memperpanjang operasi tersebut selama kondisi observatorium dan pendanaan memungkinkan.

Teleskop Roman NASA Punya Bidang Pandang Sangat Luas

Roman membawa Wide Field Instrument dengan kamera inframerah beresolusi tinggi. Bidang pandangnya setidaknya 100 kali lebih luas dibandingkan Hubble.

Kemampuan tersebut membuat Roman dapat mengamati wilayah langit yang sangat luas dalam waktu relatif singkat. NASA menyebut observatorium ini dapat melakukan survei langit dengan kecepatan sekitar 1.000 kali lebih tinggi daripada Hubble untuk jenis pengamatan tertentu.

Sebagai perbandingan, Hubble membutuhkan waktu sangat lama untuk melakukan survei dengan cakupan yang sebanding. Roman justru dirancang untuk melakukan pengamatan luas secara sistematis.

Mencari Jawaban tentang Energi Gelap

Salah satu tujuan utama Roman adalah mempelajari energi gelap. Para ilmuwan memperkirakan energi misterius tersebut berkaitan dengan percepatan ekspansi alam semesta.

Roman akan mengumpulkan data dalam jumlah besar untuk membantu ilmuwan memetakan perkembangan alam semesta. Pengamatan tersebut dapat membantu menguji berbagai teori mengenai evolusi kosmos.

Selain energi gelap, misi ini juga akan mempelajari distribusi materi gelap. Materi tersebut tidak memancarkan cahaya, tetapi pengaruh gravitasinya dapat terlihat melalui perilaku objek-objek di sekitarnya.

Roman diharapkan membantu ilmuwan membuat peta tiga dimensi alam semesta dengan cakupan miliaran galaksi.

Roman Juga Memburu Exoplanet

Penelitian Roman tidak hanya berfokus pada struktur alam semesta. Observatorium ini juga akan mencari dan mempelajari planet yang berada di luar tata surya.

Instrumen coronagraph pada Roman dirancang untuk menghalangi cahaya bintang. Dengan cara tersebut, astronom dapat mencoba mengamati cahaya yang jauh lebih redup dari planet di sekitar bintang tersebut.

Teknologi ini penting karena cahaya bintang biasanya jauh lebih terang daripada cahaya planet. Sistem tersebut dapat membantu astronom mempelajari dunia yang sebelumnya sulit diamati secara langsung.

NASA menegaskan bahwa Roman bukan teleskop khusus untuk mencari kehidupan. Namun, data yang dihasilkan dapat membantu misi masa depan dalam mempelajari planet yang berpotensi layak huni.

Melengkapi Hubble dan James Webb

Roman tidak dirancang untuk menggantikan Hubble atau James Webb Space Telescope. Ketiganya memiliki kemampuan dan sasaran pengamatan yang berbeda.

Hubble terkenal dengan gambar beresolusi tinggi dan pengamatan pada berbagai panjang gelombang. Sementara itu, Webb unggul dalam pengamatan inframerah dengan kemampuan melihat objek sangat jauh.

Roman menawarkan pendekatan berbeda melalui bidang pandang yang jauh lebih luas. Karena itu, astronom dapat menggunakan Roman untuk menemukan target menarik sebelum mengamatinya secara lebih mendalam menggunakan teleskop lain.

Misi Baru NASA Buka Era Pengamatan Luas

Peluncuran Roman menandai langkah penting bagi astronomi modern. Observatorium tersebut akan menghasilkan data dalam jumlah sangat besar selama bertahun-tahun.

NASA memperkirakan Roman akan membantu mengungkap planet baru, memetakan galaksi, mempelajari lubang hitam, serta meneliti materi dan energi gelap.

Pada akhirnya, perjalanan Teleskop Roman NASA dari teknologi satelit mata-mata menjadi observatorium antariksa menunjukkan bagaimana teknologi pemerintah dapat digunakan kembali untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Kini, Roman meninggalkan Bumi untuk mencari jawaban mengenai beberapa pertanyaan terbesar tentang alam semesta.