Filosofi Dharma, konsep sentral dalam agama-agama India (terutama Hindu, Buddha, dan Jainisme), yang berarti “tujuan, kewajiban, atau jalan hidup yang benar,” kini makin relevan dan diterapkan dalam gaya hidup modern India yang serba cepat. Di tengah urbanisasi dan tekanan globalisasi, banyak kaum muda India mencari kembali prinsip-prinsip Dharma untuk menemukan keseimbangan dan makna.
Penerapan Dharma dalam kehidupan sehari-hari bukan lagi sekadar ritual keagamaan, tetapi menjadi panduan etika. Dalam konteks profesional, Dharma berarti melakukan pekerjaan dengan dedikasi dan kejujuran, tanpa terikat pada hasil secara berlebihan (Karma Yoga). Hal ini membantu mengatasi stres kerja dan tekanan untuk mencapai kesuksesan material semata, menggeser fokus dari hasil menjadi proses dan etos kerja.
Dalam ranah personal, prinsip Dharma tentang ahimsa (tanpa kekerasan) dan satya (kebenaran) memengaruhi keputusan gaya hidup, seperti meningkatnya tren vegetarianisme dan veganisme, serta praktik kesadaran (mindfulness) seperti yoga dan meditasi. Konsumen India makin memilih produk yang etis dan berkelanjutan, yang sejalan dengan gagasan untuk hidup selaras dengan alam dan tidak merugikan makhluk lain.
Secara keseluruhan, Dharma menawarkan kerangka kerja untuk hidup yang bermakna (purpose-driven life) di era modern. Ini memberikan jangkar spiritual dan etika yang membantu individu India menavigasi kompleksitas kehidupan modern. Alih-alih bertentangan dengan kemajuan, filosofi kuno ini menjadi filter budaya yang menyaring tren global agar sesuai dengan nilai-nilai inti India.

